Jumat, 26 Juli 2013

Gunung Semeru ( 3.676 Mdpl )

Mahameru, sebutan untuk sebuah puncak tertinggi di tanah jawa, dengan ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl) yang berada di Gunung Semeru – Jawa Timur. Jonggring Saloko adalah nama dari kawah mahameru dengan status aktif, yang selalu menjadi pesona wisatawan domestic dan international karena sifatnya yang mengeluarkan material pasir dan gas setiap menitnya. 

Selain itu gunung dengan klasifikasi stratovulcano ini memiliki daya tarik keindahan alam dan danau gunungnya “ Ranukumbolo”.

Selama menyusuri jalan dan jalur menuju puncak, kita dapat merasakan suasana yang berbeda dari pendakian gunung lainnya di pulau jawa. Hampir semua karakter gunung gunung di pulau jawa di miliki oleh Gunung Semeru. Dari Hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane dan Hutan Ericaceous ada disini.

Dengan rata rata suhu 3°c - 8°c (malam hari) dan 15°c - 21°c (pada siang hari) dan perjalanan yang cukup berat, kita wajib mengkondisikan perlengkapan yang ada dengan standart pendakian agar perjalanan menuju puncak dapat berlangsung dengan baik. 

Nah, sekarang bagaimana kita bisa mencapai Gunung Semeru? 

Menurut kebiasaan para pendaki, diperlukan 4 hari untuk mencapai Mahameru pulang pergi. Untuk perbekalan , disarankan membawa kapasitas ransum selama 1 minggu karena setelah kita mencapai puncak, kita boleh mengkondisikan waktu untuk bermalam lagi ( jika memungkinkan) agar bisa melepas lelah dan menikmati panorama Semeru yang indah. 

Transportasi menuju Semeru dapat di tempuh lewat Malang atau Lumajang. Berangkat dari terminal Malang (Arjosari) dengan tujuan tumpang adalah jalur yang banyak di gunakan pendaki dan backpacker untuk menuju Gunung semeru. Dari Tumpang kita akan melakukan perjalanan menggunakan Jeep yang nantinya akan mengantarkan kita pada pos awal – Ranupani. Sebelumnya kita akan mampir ke Gubukklakah untuk mengurus perijinan. Selama perjalanan dengan Jeep kita juga akan di pesonakan oleh pemandangan hutan dan view Bromo Tengger saat melintasinya.

Ranupani adalah desa terakhir di kaki Gunung Semeru, yang merupakan shelter pemeriksaan dan pos awal para pendaki. Di tempat ini juga tersedia toko kecil dan penginapan sederhana sebagai fasilitas untuk para pendaki maupun yang turun dari pendakian. Didaerah ini juga memiliki 2 danau alam , danau ranu (1 ha) dan danau Regulo (0,75 ha). Letak ketinggian Ranupani adalah 2.200 Mdpl 

Menuju Ranukumbolo ( 2.400 Mdpl ) 

Perjalanan menuju Ranukumbolo ditandai dengan jalur pendakian yang landai dan tumbuhan alang-alang. Jalur ini tidak ditandai dengan marking khusus akan tapi disetiap 100m kita dapat jumpai adanya tanda (plang) jarak/panjang jalur. 


Banyak juga ditemui pohon pohon besar yang tumbang dan melintang di jalur. Setelah menyusuri jalur yang didominasi Bunga Edelweiss di sekitar lereng bukit sepanjang 5 km, kita akan segera menjumpai batu terjal yang unik dan indah. Ya, itu adalah Watu Rejeng, disini kita bisa melihat spot puncak Mahameru dan letupan kawahnya. Kembali lagi pada perjalanan kita menuju Ranukumbolo. Jarak yang tersisa masih -/+ 4,5 km lagi. Tiba di Ranukumbolo di tandai dengan ruang terbuka dan pesona danaunya. Disini kita akan beristirahat dan bermalam di tenda dan melanjutkan aktivitas pendakian pada esok hari. 

Kalimati ( 2.700 Mdpl ) dan Arcopodo (2.900 Mdpl) 

Bangun pagi dengan kenikmatan susu / kopi hangat ,sambil menikmati panorama sekitar danau Ranukumbolo tentunya menjadi sarapan yang tiada duanya. Setelah makanpagi dan packing , kita bersiap menuju pos kalimati. Sangat disarankan untuk mengisi air di sini, karena mengingat di pos Kalimati – Arcopodo tidak ada sumber mata air ( jika ada itu Temporary). Perjalanan kini di tandai dengan jalur yang terjal dengan padang rumput dan vegetasi tumbuhan pinus dan cemara. Lepas dari Ranukumbolo kita akan menjumpai padang rumput yang sangat luas.

Tempat ini bernama Oro Oro Ombo, padang rumput yang diapit oleh deretan bukit pinus cemara di sekililingnya. Pemandangan yang luar biasa dan jarang di temui. Terkadang pada musim panas, padang ini terbakar, jadi pendaki juga harus waspada dengan situasi. Lepas Oro Oro Ombo, kita memasuki Hutan Cemara ( Cemoro Kandang ). Jika anda beruntung , kita akan menjumpai burung burung ,bahkan kijang. 

Dominasi pohon tumbang akibat kebakaran hutan dan cuaca ekstrim di jalur,banyak juga akan kita lalui. 
Pos Kalimati adalah pos yang biasanya menjadi “Last Camp” untuk menuju puncak Mahameru dengan kondisi tanah yang luas dan stabil. Sebelum tahun 2000, biasanya pendaki justru membuka tenda di Arcopodo (2.900 Mdpl). Dikarenakan kini Struktur tanah di Arcopodo (batas Vegetasi Akhir/Hutan Terahir) yang mulai tidak stabil,longsor dan menurunnya populasi pohon akibat aktivitas kawah Gunung Semeru , disarankan untuk tidak bermalam disana. 

Puncak Mahameru 

Beristirahat sejenak, sambil mempersiapkan diri menuju puncak Mahameru di Kalimati juga menjadi sensasi buat para pendaki. Biasanya kita akan mem packing makan kecil,snack dan logistic yang unik dalam skala yang lebih kecil, agar beban semakin ringan dan pergerakan lebih cepat. Pendakian ke puncak biasanya di mulai dari jam 24.00. 

sangat di sarankan untuk mempergunakan baju yang hangat ( sweater dan windbreaker), sarung tangan, Gather (pelindung sepatu), kupluk,kacamata / goggle karena medan yang ekstrim, aktivitas kawah yang mengeluarkan material padat,batu dan pasir, angin yang kencang yang menyapu pasir dan suhu rata rata di puncak mahameru 3°c - 8°c, bahkan berada di titik 0°c saat musim kemarau.

Jadi jangan heran jika nanti kita bisa jumpai Kristal Kristal es di tendaDi awali dari pendakian memuju Arcapada. 
Waktu jarak tempuh 1 jam, sedangkan dari arcapada menuju puncak 3 – 4 jam ( di karenakan struktur tanah,pasir yang tidak stabil waktu menjadi lebih lambat). Mendaki puncak di sarankan tidak siang hari karena angin dari kawah pada waktu itu menuju puncak dan membawa gas beracun. Jadi sangat beresiko. Material yang keluar dari mulut kawah adalah pasir ,kerikil,gas, dan bahkan batu batu material magma yang masih menyala. Pendaki tidak diperkenankan untuk mendekati mulut kawah. Setiap 15-30 menit biasanya kawah mengeluarkan asap putih, abu abu dan hitam. Biasanya penduduk local menamainya dengan sebutan Wedus Gembel. Setelah mencapai puncak kita dapat menikmati suasana Sunrise dan pemandangan yang mengagumkan dari puncak dan mengabadikannya dalam foto, sebelum akhirnya kita bertolak turun menuju Basecamp. Pendakian yang di sarankan adalah pada musim panas ; Juni, Juli dan Agustus. Pada bulan Desember dan januari biasanya pendakian di tutup karena adanya badai di puncak Semeru. 

Writer  : Abe 
Photos : Edelweiss

0 komentar:

Posting Komentar